Mencari Telaga di Tengah Kegersangan Zaman
Hari ini, ketika saudara-saudara kita banyak yang mengalami keputusasaan karena tak sanggup menahan beban hidup yang tak seberapa, aku tahu banyak jiwa yang gersang di balik rumah-rumah megah. Ada istri-istri yang tak menemukan lagi keindahan bersanding dengan suami. Ada suami-suami yang tak bergairah lagi melihat istrinya, meski telah berdandan dengan tampilan yang paling mengesankan dan memberinya sambutan yang begitu hangat. Ada pula anak-anak yang memperoleh segalanya dari orang tua, kecuali kepercayaan dan rasa memiliki.
Mereka inilah orang-orang yang gersang jiwanya. Mereka berlari ke sana kemari untuk mencari keteduhan. Mereka mendatangi klub-klub spiritual, malakukan umrah atau haji setiap tahun, tetapi pulang sebagaimana yang digambarkan oleh Ibnu Mas’ud ra., “Di akhir zaman akan bertambah banyak orang yang pergi haji tanpa sebab tertentu. Perjalanan ke sana sangat dimudahkan bagi mereka, dan rezeki mereka pun dilapangkan, namun mereka pulang dari sana dalam keadaan kosong dari pahala dan terlepas dari kebaikan, dan adakalanya seorang dari mereka diperosokkan oleh untanya di padang pasir dan belantara, sementara tetangganya sendiri dalam kesusahan, tidak diberinya pertolongan.”
Bisyr Ibn al-Harits pernah menyinggung. Orang-orang yang menumpuk harta dari jalan syubhat akan terbakar jiwanya untuk menghabiskan di jalan yang disangkanya mengantarkan dia kepada Allah, padahal sebenarnya ia sedang memanjakan nafsunya sendiri. Ketika seseorang datang kepadanya bersikukuh hendak berhaji setelah hajjatul-Islam (haji yang wajib sekali seumur hidup), padahal banyak yang lebih utama untuk dikerjakan bagi Islam dan ummatnya, Bisyr Ibn al-Harits berkata, “Memang, apabila harta diperoleh melalui kotoran perdagangan atau syubhat, tertariklah hati untuk memenuhi keinginan hawa nafsu, dengan menampakkan dan menonjolkan amal-amal saleh (agar dapat diketahui oleh orang banyak). Sedangkan Allah swt. telah bersumpah demi diri-Nya sendiri, bahwa Ia tidak akan menerima amalan selain amalan orang-orang yang bertakwa.”
Boleh jadi jalan kita mencari rezeki telah lurus, tetapi di dalamnya ada hak orang lain di luar zakat yang tidak kita keluarkan. Ia menjadi kotoran dalam harta kita, sehingga hidup kita senantiasa gelisah. Ada keresahan yang tak sanggup kita obati, meski telah mendatangi psikolog dan majelis-majelis wirid. Bukan majelis wirid itu salah, tetapi sikap batik kita saat menghadirinya. Kita datang karena ingin mencari keasyikan menangis, bukan sungguh-sungguh mengingati-Nya. Kita menyangka menemukan spiritualitas, padahal sesungguhnya hanyalah spiritual engineering (rekayasa spiritual). Karena tanda orang yang takut kepada Allah adalah menangis saat beribadah, maka kita berusaha meraih tandanya. Tidak lebih. Sebagaimana dari yang telah menjadi simbol eksekutif, tetapi karena hanya diambil simbolnya, sekarang penjual pisau keliling pun pakai dasi.
Kita ambil bungkus, tetapi tanpa isi. Di saat seperti ini, perputaran informasi yang amat cepat akan semakin menenggelamkan kita dalam kebisingan. Kita merasa kesepian di saat dunia justru begitu hiruk pikuk.
Oleh Mohammad Fauzil Adhim dalam buku Membuka Jalan ke Surga
Shalat yang paling Utama adalah shalat fardu; puasa yang paling utama adalah puasa Ramadhan; sedekah yang paling utama adalah zakat; sembelihan yang paling utama adalah hewan kur¬ban; mandi yang paling utama adalah mandi janabah; nafkah yang paling utama adalah nafkah untuk keluarga; .dan mati yang paling utama adalah mati syahid di jalan Allah.
5 Perusak Hati Hati adalah pengendali. Jika ia baik, baik pula perbuatannya. Jika ia rusak, rusak pula perbuatannya. Maka menjaga hati dari kerusakan adalah niscaya dan wajib. Tentang perusak hati, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada lima perkara, ‘bergaul dengan banyak kalangan (baik dan buruk), angan-angan kosong, bergantung kepada selain Allah, kekenyangan dan banyak tidur.’
“Kan datang masa dimana kendaraan yang terindah adalah amalan sholeh, tidak ada cahaya yang menerangi kecuali cahaya sholat malam yang berseri, tidak ada jembatan yang megah kecuali jembatan 5 waktu.
“Yang lebih penting daripada ilmu ialah pemindahan ilmu tersebut dari hati ke hati ” “KedaulatanNya adalah Melalui KekekalanNya”
Usman Al-Affan Berkata: “Perkara yang paling sia-sia itu ada sepuluh macam yaitu: 1. orang alim yang tidak dapat dijadikan tempat bertanya, 2. ilmu yang tidak diamalkan, 3. pendapat benar yang tidak diterima, 4. senjata yang tidak dipakai, 5. masjid yang tidak digunakan untuk tempat solat, 6. mushaf yang tidak dibaca, 7. harta yang tidak diinfakkan, 8. kuda yang tidak ditunggangi, 9. pengetahuan tentang zuhud yang ada pada hati orang yang cinta dunia, dan 10. umur yang panjang yang tidak dipakai untuk bekal perjalanan menuju kampung akhirat.”
link situs islam






Komentar Terakhir