Tulisan-tulisan berikut ini saya ambil dari buku karangan Leyla Imtichanah berjudul Ta’aruf, Keren….! Pacaran, Sorry Men!
Saya ingin menginformasikan suatu cara untuk melangkah ke “dunia baru”, cara itu adalah Ta’aruf. Dalam tulisan ini akan dikupas beberapa hal terkait ta’aruf. Tentu saja akan lebih lengkap kalau membaca bukunya. Saya hanya mengutip sebagian yang saya pikir perlu untuk saya informasikan melalui blog ini. Sesuai dengan namanya…. berbagi ilmu….
Semoga tulisan-tulisan ini dapat bermanfaat untuk rekan-rekan dan kepada Ibu Leyla Imtichanah, semoga Allah memberikan pahala yang tidak terputus karena telah memberikan kita informasi seputar ta’aruf, suatu “jalan” yang tentu saja insyaAllah diridhoi oleh-Nya.
Ta’aruf…?
Ta’aruf berasal dari Bahasa Arab, yang artinya saling mengenal. Berkenalan bisa dengan siapa saja, laki-laki atau perempuan. Namun, makna ta’aruf menjadi lebih spesifik ketika ditujukan untuk kamu-kamu yang sedang mencari jodoh, tanpa melalui pacaran. Jadi, ta’aruf diartikan sebagai berkenalan dalam rangka mengetahui lebih dalam tentang calon suami atau istri. Atau untuk lebih jelasnya lagi, taaruf adalah proses pendekakatan antara laki-laki dan perempuan yang akan menikah (pra khitbah atau lamaran).
Ta’aruf sebenarnya istilah yang baru. Sebab, pada zaman Nabi, orang tua atau wali bertanggungjawab memilihkan suami yang shalih untuk anak perempuannya. Jadi, perempuan tidak perlu mencari jodoh sendiri untuk dicarikan oleh orang lain. Keluarga dekatnyalah yang mencarikan.
Namun, akhir-akhir ini terjadi pergeseran. Orang tua tidak lagi memandang penting upaya mencarikan jodoh untuk putri-putrinya. Apalagi setelah ada istilah “Siti Nurbaya”. Bisa-bisa mereka dicap seperti orang tua Siti Nurbaya. Padahal, tentu saja tidak begitu, asal jodoh yang diajukan tidak seperti Datuk Maringgih. Anak-anak mereka yang sudah dewasa pun mulai mencari jodohnya sendiri.
Pergaulan yang mulai meluas, pengaruh budaya Barat, dan kebutuhan untuk mencari pasangan, membuat kita mengenal istilah yang bernama pacaran. Dalam KUBI, pacaran diartikan sebagai bermesraan untuk melampiaskan kasih-sayang.
Sayangnya, lambat-laun pacaran menjadi budaya.Bahkan, biar dianggap “gaul”, pacaran menjadi salah satu alat dalam pergaulan. Kalau tidak pacaran, tidak dianggap anak gaul. Banyak remaja yang pusing, stress, dan rendah diri, karena belum punya pacar. Apakah memang begitu?
Budaya Barat semakin mempengaruhi pikiran remaja zaman sekarang. Pacaran tidak lagi sekedar mengucapkan kata-kata sayang, berduaan, atau berpegangan tangan. Pacaran sudah diartikan lebih dari itu. Istilah ML (Making Love) menjadi hal yang lazim. Yang maksudnya adalah berhubungan seks sebagai tanda cinta. Masya Allah…! bahkan adalah hal biasa bagi dua orang yang berpacaran untuk melakukannya, apalagi kalau sudah akan menikah. Toh, sebentar lagi menikah.
Bagaimana dengan ta’aruf?
Kita perlu mengenal calon pasangan sebelum memutuskan untuk menikah dengan jalan yang bukan pacaran. Jalan itu adalah taaruf. Seperti apakah taaruf?
Memang, belum banyak orang yang tahu tentang istilah yang satu ini.
Padahal taaruf bisa dijadikan alternatif lain dalam mendekatkan diri dengan calon pasangan.
Kalau ada orang yang mengatakan, saya tidak akan pacaran.
Kemudian orang lain bertanya, Terus, gimana kamu dapat jodohnya?
Maka, jawabannya adalah; taaruf. Mengapa harus taaruf?
Ya, seperti jawaban orang-orang yang pacaran; agar kita tidak seperti membeli
kucing dalam karung.
Beda Ta’aruf dengan Pacaran…?
Tentu saja ada bedanya antara taaruf dengan pacaran. Kalau tidak ada, pasti buku ini akan berjudul; Pacaran Yuk…. Sebab, istilah taaruf memeng belum banyak dikenal terutama oleh kalangan umum.
Namun, ruparanya masih banyak orang yang menyamakan antara taaruf dengan pacaran. Padahal taaruf itu jelas – jelas berbeda dengan pacaran. Kita tidak bisa mengganti kata pacaran dengan taaruf hanya agar terhindar dari dosa,padahal hubungan yang kita jalani tidak jauh beda dengan hubungan pacaran pada umumnya.
Dimata Allah
Dimata Allah pacaran adalah perbuatan yang mendekati zina sebab, didalam hubungan bernama pacaran itu, semua bentuk zina bisa ditemukan. Zina hati,zina mata, zina tangan, zina kaki, zina mulut,dan zina yang terbesar;zina farji (alat kemaluan). Sekedar pemberitahuan buat yang belum tahu zina adalah 7 dosa besar dalam Islam Naudzubillahimindzalik.
Kamu tidak bisa berdalih bahwa kamu bisa terbebas dari zina – zina itu ketika berpacaran. Wow… nehi… nehi…. tidak mungkin! Yang namanya pacaran terutama karangan remaja tidak bisa terhindar dari minimal berpegangan tangan. Apalagi remaja zaman sekarang gitu lho!! Pegangan tangan aja sudah dikatakan ketinggalan zaman. Ciuman?? Ketinggalan zaman… yang namanya pacaran tuh seharusnya sudah ML.
So,kamu tidak bisa menghindar dari dosa berzina ketika sedang pacaran.
Bagaimana dengan taaruf??? Taaruf justru disyariatkan dalam Islam,sebelum memulai suatu hubungan bernama pernikahan. Rasulullah menyarankan agar kita mengenal calon pasangan hidup kita, bagaimana agamanya, akhlaknya, wajahnya, keturunannya, dan lain sebagainya. Kalau tidak taaruf dikhawatirkan kita akan menyesali pilhan kita itu nantinya.
Tujuan
Tujuan taaruf sudah jelas;untuk menikah. Sedangkan tujuan pacaran?? Bisa macam – macam. Sebenarnya, dulu pacaran pun dimaksudkan untuk lebih mengenal calon suami atau isteri,tapi sekarang?? Coba deh kamu tanyakan ke teman – teman yang sudah punya pacar atau bahkan kamu sendiri; apakah benar tujuan kalian pacaran untuk menikah?
Deadline
Deadline taaruf adalah tiga bulan. Kalaupun lebih dari itu,biasanya sudah bukan taaruf lagi, melainkan sedang mempersiapkan pernikahan. Beda dengan pacaran. Kamu tidak tahu kapan masa pacaran mu berlangsung. Ada yang masa pacarannya sampai sembilan tahun, ada juga yang juga satu minggu. Wah, rugi banget. Sudah pacaran lama – lama ternyata bubar jalan.
Jadi, kalau deadline taaruf mu lebih dari tiga bulan dan tidak ada perkembangan menuju pernikahan, berarti kamu sedang PACARAN dan bukan TAARUF. Jangan ngotot menyebut kedekatanmu dengan lawan jenis itu sebagai taaruf, hannya untuk menghindar dari dosa pacaran, padahal tidak ada pembicaraan dan tindakan apapun menuju pernikahan.
Maaf ya, kalau kesannya emosional. Sebab, belakangan ini saya menemukan contoh taaruf yang melenceng. Mereka sebut saja A (laki-laki) dan B (perempuan) berhubungan dan menyebut itu sebagai taaruf, tapi tidak jelas batas waktunya dan tidak juga ada tindakan nyata menuju ke pernikahan.
Mereka sudah saling terikat, meskipun memang tidak ada kontak fisik, tapi hati mereka sudah yakin bahwa mereka akan menikah., AKAN MENIKAH, tapi belim tahu KAPAN. Kalaupun mereka sudah menentukan kapan akan menikah, tapi waktunya masih lama…. banget. Memangnya siapa yang bisa menjamin hati tidak terbolak – balik? Padahal, interaksi taarufnya sudah seperti orang pacaran. Jadi tidak ada beda,kan?
Mungkin, mereka memang terbebas dari zina, dengan tidak adanya kontak fisik itu. Tapi sekali lagi mohon diingat, zina tidak semata hubungan intim. Jadi? Mereka tidak bisa menyebut hubungan itu sebagai taaruf, kan? Melainkan, pacaran tersembunyi.
Persiapan Mental
Orang yang sudah berani untuk taaruf, berarti mentalnya sudah lebih siap untuk menikah, daripada orang yang pacaran. Kenapa? Ya, karena tujuan taaruf sudah jalas;untuk menikah. Jadi tidak ada unsur main – main lagi disini. Orang yang menjalaninya sudah benar – benar yakin bahwa dia ingin menikah. Sementara itu, orang yang pacaran belum tentu sudah siap menikah, karena toh tujuan pacaran tidak selalu untuk menikah. Kecuali mungkin orang yang memang pacaran untuk menikah.
Hati – Hati dengan Hati
Berlama – lama menjalin hubungan dengan lawan jenis, akan mengotori hatimu. Mungkin awalnya biasa saja, tetapi setelah banyak melihat kelebihannya ketika sedang berinteraksi, kamu menjadi terpesona. Yup! Itulah yang terjadi kalau kamu pacaran. Hubungan yang terjalin lama akan mengeratkan hati kalian, padahal kalian belum tentu akan menikah. Sedangkan taaruf belum tentu. Jangka waktu taaruf yang hanyasebentar, tidak akan terlalu berpengaruh terhadap hatimu. Kalau taarufnya tidak jadi, tidak akan nagis bombay, karena hasil taaruf benar – benar murni keputusan Allah dari hasil salat Istikharah.
Lebih Menjamin Kebenaran Informasi
Jawab dengan jujur,ya..
- “ Ketika pacaran, apakah kamu menyembunyikan semua kekuranganmu?”
- “ Ketika pacaran, apakah kamu menampilkan semua kelebihanmu?”
- “ Ketika pacaran, apakah kamu menyembunyikan semua kebiasaan jelekmu?”
- “ Ketika pacaran, apakah kamu menampilkan semua kebiasaan baikmu?”
Jika jawabannya, ya, berarti kamu memang benar – benar hanya ingin pacarmu tahu yang terbaik darimu.
Kita sering mendapati teman – teman yang pacaran, sibuk menyembunyikan kejelekan dirinya. Misalnya kalau yang cowok; merokok, playboy, sering mendapat nilai buruk di sekolah sering buang angin (ups!), dll. Sedangkan yang cewek; mulut ember, gampang nangis, terkesan lemah, penyakitan, dll. Semua itu disembunyikan di depan pacarnya. Banyak banget keluhan dari pasangan yang pacaran yang di kemudian hari mendapati bahwa si pacar tidak sebaik ketika pacaran.
- “ Dulu waktu pacaran dia nggak pernah minum (alkohol). Ternyata dia pemabuk berat.”
- “ Dulu waktu pacaran dia setia banget. Eh, sekarang selingkuhannya dimana – mana.”
- “ Dulu waktu pacaran dia….”
Wah… ternyata pacaran lama – lama tidak menjamin kamu akan mengetahui semua tentang pacarmu, ya? Karena jelas, semua kejelekan itu disembunyikan oleh masing – masing pihak. Hanya kebaikan saja yang ditonjolkan. Contohnya, dulu ada teman saya yang shalatnya Cuma saat di depan pacarnya.
Dalam taaruf, kamu dilarang berbohong dan wajib menceritakan dirimu apa adanya. Di daftar biodata, kamu bahkan bis amendapatkan beberapa hal yang bisa menjelaskan siapa calonmu itu sebenarnya., seperti: karakter (sifat baik dan sifat buruk) dan penyakit yang pernah di derita. Pada saat taaruf, kamu akan lebih banyak mengetaui tentang calonmu.
Perantara
Perantara atau mediator sangat dibutuhkan dalam taaruf. Kamu tidak bisa taaruf berdua saja. Mengapa?
Tidak Dapat Memberikan Lebih Banyak Informasi Tentang Dia
Kalau Cuma berdua saja, bisa jadi kamu merasa grogi sehinggga tidak jadi menyatakan segala hal yang ingin kamu ketahui tentang calon pasanganmu hidupmu. Atau, kamu merasa tidak enak menanyakannya, takut dia tersinggung,dsb. Padahal jelas – jelas pertanyaan itu wajib kamu tanyakan.
Hal ini pernah terjadi pada seorang teman saya yang taaruf berdua saja, tanpa adanya perantara. Sampai sebulan taaruf, masih belum banyak informasi yang dia dapatkan, padahal sebenarnya banyak yang dia ingin tanyakan. Kenapa? Karena dia merasa sungkan dan tidak dan tidak enak hati. Duh, sanyang banget, kan? Kalau dengan perantara, dia bisa meminta bantuan untuk mencari jawaban atas semua hal, tentang calon pasangan hidupnya.
Rentan Terhadap Kebersihan Hati
Kalau Cuma berdua, semua hal bisa terjadi. Artinya, kata – kata yang seharusnya tidak terlontar ketika baru taaruf pun bisa terlontar. Apalagi yang laki – laki. Barangkali sudah dari sananya kalau laki – laki paling jago membuat rayuan gombal. Tidak ada salahnya dilontarkan jika sudah ada ijab sah. Kalau belum? Tunggu dulu. Kalau tidak sabar menunggu, bisa mengotori kebersihan hati. Contohnya lagi – lagi teman say. Dia taaruf berdua saja dan si laki- laki sering menelepon dan dan mengiriminya SMS mesra dan membuat hatinya melayang tidak keruan. Duh… sadar dong, Non.
Tidak Tegas
Seorang perantara akan memberikan akan memberikan batas waktu kepada calon suami – istri yang sedang taaruf; kapan deadline taaruf, kapan taaruf selanjutnya, kapan pertemuan dengan orang tua, kapan lamaran, dsb. Semuanya jadi jelas dan tidak berlama – lama. Berbeda kalau kamu taaruf berdua saja. Kamu dan si calon biosa menjadi tidak tegas dalam menentukan deafline taaruf, jadwal taaruf selanjutnya, pertemuan dengan orang tua, lamaran, dsb.
Untung Rugi
Pacaran sembilan tahun, tapi tidak jadi menikah dan ternyata malah menikah dengan orang lain? Dibawah ini, adalah kerugian – kerugian yang kamu dapatkan kalau itu terjadi kepadamu:
Rugi Waktu
Kalau kamu tahu bahwa ternyata kamu menikah dengan si B, dan bukan si A (yang menjadi pacarmu selama sembilan tahun), lebih baik kan kalau dari dulu kamu menikah dengan si B. Sayang banget kalau ternyata waktu sembilan tahunmu hanya kamu itu hanya kamu gunakan untuk mengenal si A. Saat taaurf, kamu tidak akan mengalami kerugugian seperti itu. Paling – paling kamu hanya rugi waktu sebulan – dua bulan. Itupun sebenarnya tidak bisa dikatakan rugi, karena kamu menambah teman baru. Minimal, kalau tidak jadi taaruf kan bisa jadi teman. Asal tidak terlalu dekat saja.
Rugi Uang
Hari gini, apa sih yang tidak pakai uang? Apalagi pacaran. Buat yang cowok, kamu perlu uang buat nraktir makan, nonton, nganter kemana – mana, beliin baju, dll. Buat yang cewek, apalagi sekarang sudah zaman emansipasi, sering juga keluar uang untuk urusan pacaran. Coba kalau uang itu ditabung untuk biaya menikah? Lebih bermanfaat kan? Sudah keluar uang banyak, ternyata tidak jadi menikah dengan si dia. Bagaimana dengan taaruf? Tentu saja kamu tidak perlu keluar uang! Kecuali untuk membuat biodata dan cetak foto. Tidak banyak, kok.
Rugi Tenaga
Nganterin kemana – mana, sudah tentu butuh tenaga. Apalagi kalau ngater shopping. Disuruh bawa barang ini – itu. Kalau lihat di film – film Korea, ada juga tenaga untuk menggendong si doi ketika dia ngambek. Taaruf? Ya, tidak dong. Kamu dilarang nganter si dia kemana – mana kalau baru taaruf. Apalagi menggendong – gendong. Haram…. haram….
Rugi Perasaan
Semua juga tahu, saat pacaran kita harus berkorban perasaan. Pas kangen, pas cemburu, pas sedih, dll. Aduh… rugi banget kalau perasaan itu tidak diberikan ke orang yang tepat (suami atau istri). Apalagi kalau kita yang jadi korban putus cinta. Hiks! Hiks! Hiks! Memang sih, saat taaruf, kita juga akan mengalami sedikit rugi perasaan. Tapi, Cuma sedikit kok, dan insya Allah tidak akan berlarut – larut. Misalnya, kalau taarufnya gagal.





ia sich,memang bener and aku setuju.
tapi bagaimana kalau misalnya kita menjalani ta’aruf ternyata salah satu dari pasangan kita tidak jujur.misalnya dia menutupi kekurangannya.
and sampai menikah,kita baru tahu kekurangan dia.kan rugi kitanya.bukan begitu…??
Oleh: aku on Januari 14, 2009
at 3:29 pm
wah… repot juga ya.. kalo sampe “menutup-nutupi” kekurangannya.
memang kalo mau ta’aruf, sebaiknya kita meminta bantuan orang yg bisa kita percaya.
jadi sumbernya jelas. dan orang tsb pun mengenal orang yg akan ta’aruf dgn kita.
insya Allah, akan mengurangi hal2 yg tidak diinginkan.
selain itu yg paling penting adalah adanya persamaan visi & misi…
semoga dapat menjawab pertanyaan mba “aku”.
mungkin teman2 ada yg punya pendapat lain?
Oleh: tsabitamuthmainnah on Januari 14, 2009
at 7:44 pm
jd kepengen ta’aruf jga nee….
tpi akankah khdupan kluarga kita akan bhgia tuw lau kta ta’arufan….????
mgkn tergantung yg menjalaninya kali yaa..
apasalah nya lau di coba.
smoga aja ini jln yg terbaik untuk kita kedepannya untuk bsa mencapai kluarga yg sakinah…
Aminnnnn……..
Oleh: Rizal on September 9, 2009
at 5:46 am
Y Allah, aku sadar….
Aku ingin berubah…
Trims banyak buat yg posting…
-xx-
Oleh: Angelina on Oktober 4, 2009
at 4:57 pm
wah..
Kaya’y aku harus kasih buku ini dulu jika ada yang mengajak ta’aruf agar dia yakin apakah benar2 ingin ta’aruf yg sbnr’y atau cuma main2..
Thank’s for info’y y..
Oleh: dewi on Mei 22, 2010
at 4:42 pm
alhamdulillah
insyaAllah kalau memang yang kita lakukan dalam rangka beribadah kepada Allah, semua akan dimudahkan, lebih tenang dan insyaAllah akan bahagia. dan tentunya harus disiapkan ilmu nya..
terima kasih sudah berkunjung ke blog saya
semoga bermanfaat…
Oleh: tsabitamuthmainnah on Mei 24, 2010
at 1:16 pm
sama-sama
terima kasih sudah berkunjung ke blog saya
Oleh: tsabitamuthmainnah on Mei 24, 2010
at 1:19 pm
oke deh..
selamat membeli dan membaca nya..
insyaAllah gak nyesel deh…
btw terima kasih telah berkunjung ke blog saya..
Oleh: tsabitamuthmainnah on Mei 24, 2010
at 1:21 pm
Alhamdulillah …
Ehemm…. ^_^”
Wah, anak-anak muda kalu sudah membicarakan masalah pernikahan sudah semangat sekali.
Oleh: zaiki khrd on Juli 23, 2010
at 10:20 am